Buku, Sweater, dan Strap Masker

 

Aku ingin bercerita, cerita yang jujur keluar dari seorang kawan dekat.

Jarang sekali ia mau bercerita sedalam ini, aku dibuat heran dengan rapalan merdu dan cantiknya luka yang ia butirkan jadi cerita padaku.

Aku tidak tahu pasti harus mulai dari mana, yang jelas ia memulainya dengan sangat indah, ia melewati setiap detail alur ceritanya sendiri.

Begini singkatnya ia bercerita dengan subtil padaku:

“Aku menemukan orangnya! Aku menemukannya! (dengan suara senyap menantang). Kami memulai dengan cerita layaknya kawula muda yang baru ingin memadu kasih pada biasanya. Basa basi sana sini.

Tapi jujur dalam basa basi pun aku dibuatnya jatuh hati dengan caranya merespon, menanggapi, bertanya, membalas chat, menyusun kata dan kalimat, bersuara dalam ketegasan dan kelembutan, terlebih ketika ia mulai bercerita, ia akan mulai menjadi peri pendongeng terbaik sepanjang masa. Jika saja aku adalah salah satu juri penghargaan bergengsi Nobel, niscaya aku taakan ragu untuk menghadiahinya satu piala.

Menariknya, ia melakukan itu semua dengan alami, dari diri sendiri, dengan caranya pribadi. Aku tak melihat ada celah kebohongan dalam tingkah dan kata-katanya, terkadang aku bingung, jangan-jangan ia adalah bidadari yang tidak bisa balik ke langit gegara kehilangan selendangnya di bumi.

Sayang seribu sayang, aku hanyalah manusia serba kurang. Aku tidak bisa mengendarai dua tujuan sekaligus, itu membuatku abai padanya dalam perjalanan ini. Tak ku sangka, aku berbuat salah dan membohongi janjiku sendiri pada satu kesempatan. Bukan untuk membenarkan, itu membuktikan bahwa aku hanyalah manusia yang penuh khilaf dan lupa.

Dari sekian ribu defenisi dan makna cinta yang aku pelajari, hati kecilku berbisik lembut dengan menyebut namanya. Dari riuh rendah dan ributnya kompetisi hidup, ia adalah ketenangan sejati.

Ketika berdiskusi sana sini, tanpa mau untuk disadari dan diakui, ia sungguh merepresentasikan kecerdasan dalam bersikap dan bertutur yang amat dalam. Ia bisa memainkan teater intelektual dan emosional pada diriku.

Ketika lelah berkepanjangan, lagi, tanpa mau untuk disadari dan diakui, ia adalah tempat yang amat empuk untuk disebut sebagai kenyamanan. Ia menghadirkan cerita dalam bingkai kasih yang begitu lembut.

Ketika canda tawa dan segala kebutuhan dalam keseharian, ia adalah pernak pernik dan dukuh emas yang mentereng. Ia menyajikan tampilan dua alam dalam satu dunia yang kompleks.

Aku menyebutnya sebagai Buku, Sweater, dan Strap Masker.

Namun, kini ia telah menemukan jalan untuk kembali ke perjalanan sejati miliknya selama ini.

Harus aku akui dengan jelas, walau selama ini tidak pernah menyebut langsung secara gamblang kepadanya, bahwa aku baru saja menemukan cinta. Aku mencintaimu.

Sepertinya aku pernah mengatakan pepatah ini padanya, (jangan ragu melepas merpati terbaik, karena yang terbaik pasti akan kembali pulang). Tanpa ada harapan, dengan penuh kelemahan, aku bermunajat kepada Sang Pemilik Hati. Aku hanya berdo’a yang terbaik, bukan lagi untuk mengharap do’aku segera terkabul, hanya memperlihatkan betapa lemahnya seorang hamba, dan keberhakan-Nya untuk dipinta.

Banyak sekali rahasia-rahasia yang belum aku ceritakan padanya. Seperti dalamnya rasa ini.

Aku sadar bahwa aku adalah rasa sakit padanya. Semoga dengan saling melepas, kita menjadi bahagia yang mencintai rasa sakitnya.

Perpisahan ini sungguh tidak ada dalam kalender atau memo harianku. Ini murni pilihanmu, yang artinya itu juga menjadi murni pilihanku. Karena diriku ada dalam dirimu, begitupun sebaliknya.

Sedih sekaligus bahagia. Aku merasakan dilema.

Aku sedih kehilangan representasi dari buku, sweater, dan strap maskerku.

Aku juga bahagia karena tidak lagi memberi rasa sakit berkepanjangan dalam dirimu.

Sayang, kamu yang sesungguhnya berhak mendapatkan yang terbaik dari diriku.

Kamu akan selalu menjadi candu dalam ingatan, kamu abadi dalam naskah diary kecilku, dan telah membuat ruangmu sendiri dalam hati ini.

Terimakasih luka sekaligus pembelajaran terbaik.

Aku ingin mengembalikan pesan ini,

Dari : aku

Untuk : kamu

Tetap semangat walaupun aku jauh darimu. Tenang, di sini aku selalu mendo’akanmu. Percayalah.

Percayalah juga, suatu saat nanti orang yang tepat akan datang kepadamu. Dia akan memperlakukan dirimu dengan benar dan memahami, disaat yang lain tidak.

Kamu tidak perlu menunjukkan nilai kamu karena dia bisa melihatnya sendiri.

Dia yang akan ada disaat kamu sedih maupun senang.  Dia yang akan berpikir berkali-kali melakukan sesuatu hal yang tidak menjaga perasaanmu sebagaimana kamu menjaga perasaannya.

Dia yang memberikanmu ruang untuk bertumbuh dan selalu memberi dukungan serta semangat. Dia yang menghargai pendapatmu, mencintai keluargamu, mendukung setiap mimpi-mimpimu.

Dia yang bisa kamu percayai. Dia yang bisa menjadi sahabat, sekaligus pasanganmu. Sama-sama berjuang, menghargai dan mencintai.

Sekali lagi, terimakasih.

Dari aku yang menangis dalam senyum”.

Sekian ia bercerita ringkas, ia seperti tak sanggup lagi bercerita padaku, ia akan menagih utang-utang itu dalam catatan hariannya. Kawanku bercerita seolah ia juga memberi banyak pelajaran, nasehat, dan gubahan penting untuk anak manusia dalam menemukan makna cinta sejati.

Ceritamu indah, kawan! Pesanku padamu, hidupmu dan dirinya akan terus berjalan, semoga engkau dan dia menemukan makna “terbaik” dalam perjalanan masing-masing.


- Di ujung kamar, seperti biasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanah Terjauh

Jakarta

It's The End as Well as The Beginning