Postingan

Tanah Terjauh

Gambar
  "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China", terdengar familiar? yaa, kalimat pendek yang santer terdengar sewaktu kita berada di bangku sekolah. Pun saat ini, saya berada dalam kepungan ombak menuju sana. Tak membunuh memang, tapi sudah menenggelamkan diri ini berkali-kali! Sekarang saya mengerti mengapa ada pepatah semacam itu di dunia ini. Seperti kata seorang teman, kita ditentukan bukan dari seberapa jauh kaki ini melangkah, tapi bagaimana cara kita melangkah. Negeri China memang belum nampak sejauh penglihatan didepan, karena semua hanya imajinasi belaka; tersimpan dalam pikiran yang dibungkus tekad. Perjalanan ini seperti tiada hentinya, saya menelan kesendirian mentah-mentah, berulang kali. Tidak ada tempat yang lebih jauh daripada jalan pergi dari rumah. Bahkan langkah pertama adalah bagian paling berat, seumpama menarik kulit dari tulangnya. But, here you go. Selalu ada tempat untuk mengenang hal-hal indah, berjalan dengan kaki terkuat, melihat dengan mata yang sayu, ...

Jakarta

Gambar
Separuh memori berharga di hidupku berada di tanah ini. Orang-orang menyebutnya sebagai tanah perantauan. Tidak bagiku, Jakarta adalah rumah yang sebenarnya. Tempat bagi suara tawa dan air mata menyatu jadi cerita. Tanahnya keras, tapi menuntun kelembutan. Kisahnya taakan pernah usai. Memorinya gemerlap dalam kesunyian malam-malam dimana mata terlelap namun pikiran tapernah tidur. Memulai kisah ini, tekad kuat dan ambisi masa depan sedikit memaksaku mengikuti kuatnya tarikan magnet Ibukota. Selintas harapan, keinginan tuk hidup lebih baik selayaknya manusia dewasa. Selebihnya hanya bertumpu pada takdir yang entah akan membawa kemana, puncak tertinggi atau jurang terdalam? sekelumit pikiran membayang. Tiada yang begitu nyata, imajinasi membuat teater tersendiri dalam kepala. Tertanam namun tak tersampaikan. Sunyi sendiri, diam dan berpangku tangan melihat ke bayang-bayang malam adalah aktivitas harian; teman sejati pendengar terbaik banyak kisah tak terlisan. Sesekali air mata tertegun ...

Cinta itu Seperti Ikan Badut dan Anemon Laut

Gambar
Cinta menjadi satu-satunya kata-kata mujarab yang kalau boleh dibilang-menjadi penjelas dari alasan mengapa dua manusia menjalani ikatan dalam hubungan. Nyatanya cinta tidak semudah kata-kata yang lancar terucap dari mulut ketika seseorang sedang kasmaran. Banyak orang yang mengatasnamakan cinta untuk berbuat kasar, memaki, main fisik, bahkan lebih buruk lagi, saling membunuh. Tidak jarang cinta menjelma menjadi tragedi saat berada di tangan manusia-manusia bodoh yang berpikir mereka telah melakukan sesuatu dengan benar karena mereka cinta, alih-alih benar, mereka hanya mempertontonkan kebodohan terburuk; orang bodoh yang tidak tahu bahwa mereka benar-benar bodoh. Sedangkan jika berada di zona sebaliknya, kebahagiaan. Cinta bahkan juga bisa berubah menjadi joker kesengsaraan. Jika saja pembaca sering membaca atau mendengar, ada sebuah kalimat yang mengatakan, “ kalau penawaran tertentu terdengar sangat menarik, hati-hati karena biasanya itu tidak benar ”. Yaps, persis dengan cinta. J...

Rest In Love, Chingku.

Gambar
    Minggu, 27 Maret 2022. Chingku, seekor kucing campuran kampung-anggora milikku secara resmi telah tiada sebulan yang lalu. Kepergiannya meninggalkan banyak memoar kerinduan. Aku ingin merapalkan beberapa sisi memoar paling aku kenang darimu, si gembul oren. Juli 2020, aku mengakuisisi sepenuhnya kepemilikan atas Chingku. Oh ya, nama “Chingku” aku beri karena tampaknya nama tersebut cukup fleksibel, bisa berarti “Kuching” (Jika dibalik), atau “Kucingnya Aku” (Singkatan dari). 1 tahun 8 bulan, suara meongannya menemani keseharian hidup kami se-keluarga di rumah. Chingku si kucing oren adalah pribadi hewan yang ulet, aktif, dan ekspresif. Energi positifnya sering meluap-luap memenuhi sudut-sudut rumah. Chingku tumbuh dan berkembang sebagai kucing peliharaan yang lebih banyak menghabiskan waktu di kandang. Walaupun lebih sering hidup terisolasi dari dunia luar, sesekali keluar, kucing-kucing tetangga mati ketakutan dibuatnya. Ia jawara-nya dalam pertarungan antar kuc...

Tidur yang Terjaga

Gambar
  Malam itu, hari Jum'at. Badanku letih menjadi-jadi. Aku pulang ke rumah, zona berkontemplasi-ku, sehabis bermain hampir seharian di luar. Gelak tawa, saling curhat, sesekali serius, dan banyak berbasa-basi. Semacam irama konstan yang sering aku mainkan berminggu-minggu ke belakang. Di rumah telah menunggu kedua orangtuaku. Mereka berdua sangat perhatian, isi log panggilan handphone ku didominasi oleh nama-nama "Mama & Papa", lengkap dengan emoticon love merah pekat di belakangnya. Aku beruntung, mereka amat perhatian. Setidaknya notif whatsapp -ku masih sering muncul layaknya pacar posesif yang meneror cowok mereka tiap kali si cowok keluar nongkrong bersama temannya. Hari itu adalah hari ke delapan pasca papa operasi hernia. Belum pulih sepenuhnya, berjalan saja masih terlihat sesekali sempoyongan . Mama merawat papa dengan cara yang amat telaten, selalu siaga 24 jam. Cara mencintai yang amat tulus, ucapku acapkali dalam hati. Aku beberes dan bersih-bersih lalu ba...

Kebahagiaan Fana, Kesedihan Abadi

Gambar
 Banyak orang berkata, "Ga perlu dipikirin, yang penting lo bahagia aja dulu". Pertanyaan besarnya, bagaimana saya bisa memetakan kebahagiaan yang sering terputus dari realitas? apa ia benar-benar ada? atau kita sebagai manusia yang hanya berusaha mencari pembenaran atas keberadaannya? Dunia bergerak sangat cepat, seperti berlari tanpa henti. Saya merasa dibawa hanyut ke dalam derasnya aliran pergerakan itu. Mau tidak mau, seperti tertarik semacam daya magnet untuk terus melaju. Di satu persimpangan saya sempat kebingungan, apa dunia memang diciptakan untuk dilalui seperti ini? banyak pertanyaan-pertanyaan absurd berserakan di pinggiran kepala, mereka asyik nongkrong sambil mengejek dan mencemooh saya. Saat berjumpa dengan momen yang kalau dalam banyak pandangan disebut sebagai momen bahagia, saya malah mencari-carinya. Ia ternyata datang sesaat, cepat, lalu menghilang. Kesendirian sepertinya menjelaskan bahwa yang abadi hanyalah kesedihan, saat malam menyapa, ia datang, sel...

Februari, akhir.

Gambar
  Ini adalah akhir dari hari-hari di bulan Februari, menjelang terbitnya musim baru. Kebahagiaan ternyata hanyalah pengantar semu, menuju kesedihan yang teramat abadi. Riuh, rumit, dan ruwet adalah jalan pintas yang selalu berhasil memangkas waktu tidur. Kenyamanan, lalai, dan diam adalah jalan buntu yang membuatmu berhenti bertumbuh. Berusaha, kata kerja ini hanyalah satu diantara ributnya variabel-variabel lain. Semakin saya berupaya meraih kesempurnaan, semakin saya menemukan cacat, luka, dan hina dalam diri. Benar, saya memang perlu merelakan diri untuk terus saja mengalir, dengan prasyarat kesadaran penuh tentunya. Meluap sesekali itu tak apa, saya serius. Air mata tidak memiliki jenis kelamin. Kadang ia butuh tumpah untuk kembali tumbuh. Bersandarlah di pundak ternyaman, ia berada tepat di bahwa daun telingamu sendiri. Dari dalam jiwa senyap bersuara lirih, “Dari segala persoalan, yang berhasil menang hanyalah hati yang tenang”. Selamat, mengudaralah kasih dalam k...

Sabtu dalam Memori

Gambar
  Hari ini hari Sabtu. Beberapa hari ke belakang aku tidur paling lambat jam 11 malam, tidak seperti biasa memang. Tidur cepat merupakan salah satu impian terbesarku di umur 20-an, dan aku bersyukur itu bisa terwujud, ya walau alasannya karena kondisi fisik yang kurang fit. Malam tadi mama berpesan agar aku bisa menemaninya ke pasar di pagi hari nanti, dan selepasnya kami bisa berkunjung ke Panti Asuhan untuk bersilaturrahmi dengan Ibuk Panti setelah sekian lama aku tidak kesana. Singkat cerita, setelah selesai berbelanja kebutuhan pokok mingguan yang tidak sempat dilakukan di hari-hari kerja karena kesibukan mama, terlebih setelah pindah ke kantor yang baru. Kami menutup pagi dengan sarapan lontong kesukaan mama yang sering ia makan sebelum berangkat ke kantor, sebelum ia pindah tentunya. Aku lantas memesan satu porsi lontong cubadak dan bubur putih untuk dibawa ke Panti Asuhan. Setibanya di Panti Asuhan yang jaraknya sebenarnya cukup dekat, kira-kira tiga atau empat kilometer da...

Buku, Sweater, dan Strap Masker

Gambar
  Aku ingin bercerita, cerita yang jujur keluar dari seorang kawan dekat. Jarang sekali ia mau bercerita sedalam ini, aku dibuat heran dengan rapalan merdu dan cantiknya luka yang ia butirkan jadi cerita padaku. Aku tidak tahu pasti harus mulai dari mana, yang jelas ia memulainya dengan sangat indah, ia melewati setiap detail alur ceritanya sendiri. Begini singkatnya ia bercerita dengan subtil padaku: “Aku menemukan orangnya! Aku menemukannya! ( dengan suara senyap menantang ). Kami memulai dengan cerita layaknya kawula muda yang baru ingin memadu kasih pada biasanya. Basa basi sana sini. Tapi jujur dalam basa basi pun aku dibuatnya jatuh hati dengan caranya merespon, menanggapi, bertanya, membalas chat, menyusun kata dan kalimat, bersuara dalam ketegasan dan kelembutan, terlebih ketika ia mulai bercerita, ia akan mulai menjadi peri pendongeng terbaik sepanjang masa. Jika saja aku adalah salah satu juri penghargaan bergengsi Nobel, niscaya aku taakan ragu untuk menghadiah...

Bukan tentang Hitam atau Putih

Gambar
  Setelah sekian lama purnama, aku menemukan beraneka pandangan yang berbeda untuk satu persoalan yang sama. Ada beberapa dari mereka yang tetap memiliki tujuan dan selalu merencanakan segala sesuatunya, ada pula dari mereka yang menjalani hidup layaknya air mengalir. Ada yang pesimis, ada pula yang mencoba untuk optimis. Satu hal baru yang aku pahami, bahwa hidup tak hanya hitam dan putih, tak hanya antara yang bermoral dan sundal. Tak hanya tentang menjalani dengan perencanaan ataupun tidak. Tapi hidup penuh dengan warna yang berbeda-beda. Dari situ aku belajar secara mandiri untuk memilih pendapat atau warna mana yang lebih logis untuk diikuti, atau bahkan justru aku akan menemukan pandanganku dan warnaku sendiri. Proses panjang mengajariku kemandirian dalam berpikir, keberanian dalam bersikap dan berpendapat, serta kemampuan untuk berbuat dan bertanggung jawab atau segala konsekuensinya. Ini memberiku sedikit tamparan, bahwa hidup adalah soal menjadi diri sendiri. Hidup b...

Bertuan Pada Kebenaran

Gambar
 Di sudut malam, seorang tokoh adat kontemporer sekaligus pemrakarsa Limbago Nan Salapan, yang juga dikenal dengan panggilan Professor Adat bertanya pada kami anak-anak muda yang sebelumnya cukup sibuk untuk saling berfilsafat ria. Beliau berceletuk di awal pembicaraan dengan sebuah pertanyaan sederhana, " Apakah kerusakan di negeri ini sekarang sudah bisa dikatakan sempurna ? " Hampir seluruh dari kami mengatakan belum sempurna akibat dari masih adanya sikap optimisme yang muncul jika melihat ruang-ruang diskusi perbaikan yang kian aktif di tengah-tengah masyarakat, khususnya bagi kaum muda. Saya sendiri menjawab bahwa kerusakan sudah berada di ujung tanduk kesempurnaan. Beliau menjelaskan lebih jauh, masalah di negeri ini sangat sempurna apabila kita tinjau dari segi persoalan IPOLEKSOSBUDHANKAM, diperkuat dengan apa yang sudah dan sedang terjadi hari ini. Pembicaraan beliau kemudian menyentuh titik filsafat teologi metafisik dan moral, ketika menemukan bahwa inti dari per...

It's The End as Well as The Beginning

Gambar
 3 Oktober 2021 menjadi saksi, bahwa sebuah perjuangan telah membuahkan hasil. Viggo Pratama Putra, S.AP, begitulah nyatanya. Nama formalku bertambah 3 huruf. Saya bingung akan mulai dari mana, yang jelas kini tantangan baru pasti akan menanti. Sebuah tanggungjawab menunggu untuk dipertuankan. 4 tahun berkuliah terasa amat singkat bagiku. Terlebih Pandemi Covid-19 mewarnai hampir setengah dari perjalanannya. Saya belajar banyak hal, tak sanggup kiranya untuk saya ceritakan satu per satu. Satu hal terpenting, saya belajar untuk benar-benar hidup . Dari keramaian yang terasa sepi, kesendirian yang berkecamuk, diri ini sering terlontar pada perjalanan akan makna. Saya sering kebingungan di setiap simpang, namun merasa yakin di setiap kebuntuan. Saya hanya ingin hidup untuk menghidupi . Baris diatas sengaja saya renggangkan, untuk memberi sedikit jeda pada sibuknya ambisi dan lari. Saya ingin berteriak sekencang-kencangnya! Namun saya begitu malu pada Tuhan Yang Maha akan Pendengaran ...