Tidur yang Terjaga
Malam itu, hari Jum'at. Badanku letih menjadi-jadi. Aku pulang ke rumah, zona berkontemplasi-ku, sehabis bermain hampir seharian di luar. Gelak tawa, saling curhat, sesekali serius, dan banyak berbasa-basi. Semacam irama konstan yang sering aku mainkan berminggu-minggu ke belakang.
Di rumah telah menunggu kedua orangtuaku. Mereka berdua sangat perhatian, isi log panggilan handphoneku didominasi oleh nama-nama "Mama & Papa", lengkap dengan emoticon love merah pekat di belakangnya. Aku beruntung, mereka amat perhatian. Setidaknya notif whatsapp-ku masih sering muncul layaknya pacar posesif yang meneror cowok mereka tiap kali si cowok keluar nongkrong bersama temannya.
Hari itu adalah hari ke delapan pasca papa operasi hernia. Belum pulih sepenuhnya, berjalan saja masih terlihat sesekali sempoyongan. Mama merawat papa dengan cara yang amat telaten, selalu siaga 24 jam. Cara mencintai yang amat tulus, ucapku acapkali dalam hati.
Aku beberes dan bersih-bersih lalu balik ke kamar untuk menunaikan kewajiban sholat Isya. Niat hati ingin membuka laptop untuk lanjut menonton podcast Endgame-nya Gita Wirjawan yang sempat terhenti saban hari.
Namun niat itu urung aku lakukan. Setelah kembali mengingat dan menimbang sebelum sholat Jum'at tadi aku telah menghabiskan banyak waktu dengan menatap layar laptop selama kurang lebih empat jam. Kebanyakan dihabiskan untuk menonton film.
Teringat aku belum sepenuhnya menyelesaikan bacaan novel pinjaman seorang kawan berjudul Maryamah Karpov karangan Andrea Hirata, aku langsung bergerak impulsif mengambil buku yang sampulnya sudah agak koyak tersebut di tumpukan buku-buku kiri khas idealisme mahasiswa semasa aku kuliah dulu, eh kemaren.
Cuaca sangat cerah malam itu, sepertinya ini waktu yang legit untuk bersantai membaca lembaran-lembaran novel tetralogi itu di teras halaman rumah. Sepoy-sepoy angin malam menyapa silih berganti dengan suara sayup motor yang berseliweran di jalan tak tentu arah. Bintang-bintang berserakan tersusun tak beraturan di langit biru kelam.
Aku menghentikan bacaan di mozaik ke sepuluh. Cerita perjalanan pulang Ikal ke kampung halamannya di Pulau Belitong dengan romansa memori Eropa tua amat khidmat disantap malam itu. Sekarang waktunya bergeser ke kasur empuk, seorang kawan setia yang menemani malam-malam sunyi dan kelabu-ku. Aku tertidur pulas dengan pikiran yang terjaga.
Komentar
Posting Komentar