Belajar Prinsip Kesetiaan
Di suatu sore menjelang maghrib tepat sehari sebelum Ummat Islam mulai menunaikan ibadah dibulan puasa, aku sekaligus kedua orangtuaku pergi berkunjung ke Panti Asuhan Tunas Bangsa di Kotaku, Kota Solok. Dalam tradisi masyarakat Minangkabau, kunjungan layaknya seperti ini seringkali disebut “manjalang” bagi menantu yang pergi bersilaturrahmi dan berkunjung ke rumah mertuanya. Namun bagiku kunjungan ini lebih dari sekedar ajang silaturrahmi, sebuah refleksi mendalam akan kenangan masa kecil dimana lebih dari 5 tahun aku tumbuh dan besar dibawah tangan dingin sepasang suami-istri yang berikhlas diri merelakan sebahagian besar hidupnya untuk mengurus anak yatim berpuluh-puluh tahun lamannya. Kesibukan pekerjaan kedua orangtua membuat masa kecilku lebih banyak dibentuk oleh perempuan berhati selembut sutera seputih salju, aku mengenalnya dengan panggilan “Ibuk Panti”. Tak lupa, seorang lelaki tangguh, terkenal dengan prinsip dan kedisiplinannya, aku memanggilnya “Pak Bon”. ...