Belajar Prinsip Kesetiaan
Di suatu sore menjelang maghrib tepat sehari sebelum Ummat Islam mulai menunaikan ibadah dibulan puasa, aku sekaligus kedua orangtuaku pergi berkunjung ke Panti Asuhan Tunas Bangsa di Kotaku, Kota Solok.
Dalam tradisi masyarakat Minangkabau, kunjungan layaknya seperti ini seringkali disebut “manjalang” bagi menantu yang pergi bersilaturrahmi dan berkunjung ke rumah mertuanya.
Namun bagiku kunjungan ini lebih dari sekedar ajang silaturrahmi, sebuah refleksi mendalam akan kenangan masa kecil dimana lebih dari 5 tahun aku tumbuh dan besar dibawah tangan dingin sepasang suami-istri yang berikhlas diri merelakan sebahagian besar hidupnya untuk mengurus anak yatim berpuluh-puluh tahun lamannya.
Kesibukan pekerjaan kedua orangtua membuat masa kecilku lebih banyak dibentuk oleh perempuan berhati selembut sutera seputih salju, aku mengenalnya dengan panggilan “Ibuk Panti”. Tak lupa, seorang lelaki tangguh, terkenal dengan prinsip dan kedisiplinannya, aku memanggilnya “Pak Bon”.
Waktu berlalu begitu cepat, kini mereka tidak lagi segesit dan selincah dulu dalam merawat serta mendidik anak yatim piatu disana. Walau begitu, sumpah setia akan prinsipnya mengabdikan diri merawat anak yatim piatu jauh melebihi teguhnya idealisme yang sering dikoar-koarkan anak-anak muda dewasa ini.
Sudah lebih dari 4 bulan aku tak berkunjung, ah kesibukan sesaat yang seringkali ku cari-cari telah membuatku lupa dengan 2 orang paling berharga dihidupku!
Berat sudah langkah kaki ini kucoba mengayunkannya menyusuri tembok-tembok bangunan berwarna hijau tua, tempat dimana telah banyak mencetak orang-orang sukses dan berhasil tanpa ter-diskreditkan mereka seorang anak tanpa ayah atau ibu, pun keduanya.
Gemericik langkah kakiku disambut dengan tangis haru Ibuk Panti, badan kecilnya tergopoh-gopoh merangkul badanku. Aku hanya bisa tertegun, ruih rendah suara Ibuk Panti menanyakan kabarku telah membuat genangan air berselimpangan jatuh berderai disudut mata ini.
Tangisku makin pecah kedalam saat melihat kondisi kesehatan 2 orang berhati malaikat ini makin hari makin memprihatinkan. Pak Bon hanya terduduk di kasurnya sembari menanyakan siapakah gerangan yang datang.
Perlu 2 sampai 3 kali aku mengulangi namaku agar Pak Bon ingat siapa yang datang. Pendengarannya kurang baik, begitupun dengan penglihatannya. Aku tersudut membisu, beberapa kali dengan sigap lengan baju kuarahkan ke mataku untuk mengelap deraian air mata yang tak henti-hentinya keluar.
Ibuk Panti dan Pak Bon sudah berumur sekitar 80-an tahun. Namun ingatannya akan masa kecilku disini tak pernah sirna dan selalu saja diceritakan berulang-ulang padaku. Entah mengapa, masa kecilku begitu berkesan bagi kedua orangtua ini.
Pertemuan singkat 1 jam yang sangat berarti bagiku. Banyak pembelajaran berharga yang begitu mendalam dapat ku ambil dalam kunjunganku kali ini. Walaupun selalu pergi dalam keadaan hati yang penuh kesedihan karena sangat jarang bertemu, sepatah dua patah kata dari Ibuk Panti dan Pak Bon selalu membekas dalam jiwaku.
Setidaknya, dari 2 orang yang mengabdikan diri merawat ratusan bahkan mungkin sudah ribuan anak-anak yatim piatu sejak berpuluh-puluh tahun lalu aku bisa belajar, bahwa setiap orang memang bisa memilih, tapi tidak semua bisa setia dengan pilihannya, dan balasan bagi yang setia ialah kebahagiaan tanpa henti.
Kebahagiaan yang senantiasa selalu dapat kulihat dikerutan senyum Ibuk Panti dan Pak Bon saat mendidik dan merawat anak-anak disini.
Sehat dan bahagia selalu Ibuk, Pak! Semoga waktu mengizinkanku untuk lebih sering berkunjung, duduk dan bercerita mengenang kembali masa lalu dengan dirimu…

Komentar
Posting Komentar