Jakarta




Separuh memori berharga di hidupku berada di tanah ini. Orang-orang menyebutnya sebagai tanah perantauan. Tidak bagiku, Jakarta adalah rumah yang sebenarnya. Tempat bagi suara tawa dan air mata menyatu jadi cerita. Tanahnya keras, tapi menuntun kelembutan. Kisahnya taakan pernah usai. Memorinya gemerlap dalam kesunyian malam-malam dimana mata terlelap namun pikiran tapernah tidur.


Memulai kisah ini, tekad kuat dan ambisi masa depan sedikit memaksaku mengikuti kuatnya tarikan magnet Ibukota. Selintas harapan, keinginan tuk hidup lebih baik selayaknya manusia dewasa. Selebihnya hanya bertumpu pada takdir yang entah akan membawa kemana, puncak tertinggi atau jurang terdalam? sekelumit pikiran membayang. Tiada yang begitu nyata, imajinasi membuat teater tersendiri dalam kepala. Tertanam namun tak tersampaikan.


Sunyi sendiri, diam dan berpangku tangan melihat ke bayang-bayang malam adalah aktivitas harian; teman sejati pendengar terbaik banyak kisah tak terlisan. Sesekali air mata tertegun ke dalam sebagai tanda bahwa manusia terlalu rapuh untuk selalu terlihat kuat, disisi lain ambisi mengepul jadi api yang siap membakar belukar penghalang jalan didepan. Diantara kerumitan, semua berlalu. Aku memilih logika disaat hati terlalu banyak menelan tenaga. Percaya padaku, aku taakan berbicara dua kali; tidak ada yang benar-benar peduli, semua semu.


Waktu berjalan pelan perlahan. Tidak ada momen terencana, semua berlalu begitu saja hingga langkah ini terhenti pada tanah basah. Airnya menyejukkan kaki yang telah lama melangkah begitu terburu-buru, terseok bahkan tak jarang terjatuh sempoyongan. Pelico memang! apa ini nyata atau hanya oase ditengah gurun pasir. Siapa yang benar-benar tau. Yang aku tau disini kelembutan berhasil mengubah api menjadi redup, menyala.


Manusia taakan pernah habisnya untuk dipelajari, sebuah adagium psikologi terkenal yang pernah aku baca. Setuju! 100 persen, ah 1000. Ah aku mulai merasa tidak bisa memberi angka, begitu tak terhingga. Perubahan terasa nyata, jalanku penuh senyum suka bahagia hingga menemukan bagian terdalam. Tak teraba, namun begitu terasa. Hiruk pikuk Ibukota memutar musik terbaik sepanjang musim. Sayu-sayu cahaya gedung pencakar langit memberiku ribuan harapan. Pasrah lelah dan sakit terbayar tunai.


Harapan memelukku erat, sangat dekat. Kisah tertulis abadi di langit penuh debu asap dan berkilau dibalik awan jingga khas sore hari di Kota Metropolitan. Waktu mulai berlalu, cepat dari biasanya. Culas memang! Saat mendapat satu kebahagiaan, hal-hal lain dikorbankan seperti detik jam yang saling bersaing menyambut hari ke hari. Tapi tidak ada masalah berarti karena aku sadar berjalan diatas takdir diri, melewati ramai dan sepi berdua layaknya satu organ yang sama.


Naik turun jalannya langkah kaki mulai terasa memasuki fase penerimaan. Tingkatan paling tinggi dari tujuan dua pasang langkah kaki menuju pemberhentian yang sama.  Peluk kasih, canda tawa, suka cita, tangis, amarah, duka dan semua diaduk menjadi rata; adonan bagi tercapainya cita-cita terindah bagi hati yang saling mencintai. 


Benar kata Tulus. Jangan cintai aku apa adanya, jangan. Tuntutlah sesuatu, agar kita jalan kedepan.


-Bagian Pertama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanah Terjauh

It's The End as Well as The Beginning