Tentang Rasa Syukur
Malam itu cuaca cerah sekali. Bulan dan bintang merekah bergantungan indah di langit. Sama cerahnya dengan hati dua orang kakak beradik yang beranjak kesana kesini melompat-lompat riang seperti tanpa beban.
Kebetulan saya duduk bertiga dengan dua orang kawan tepat di pelataran yang sepertinya khusus disediakan untuk orang-orang yang ingin santai sejenak melepas kepenatan dikawasan pedestrian daerah Khatib Sulaiman Kota Padang, tempat biasa kami berbagi cerita dikala tak tahu lagi kemana kaki akan melangkah.
Melihat kegirangan anak kecil tadi yang lewat mondar mandir persis dibelakang kami, lantas kawan saya langsung menyerobot memanggil dan menanyakan pendidikannya. Dari situ kami tahu ternyata ia baru saja menginjakkan kaki di Sekolah Dasar, ya bocah itu berlatar belakang pendidikan kelas 1 SD.
Dari kejauhan, tadinya kami melihat bocah mungil itu mamasukkan plastik-plastik bekas minuman ke dalam kantong goni yang besarnya hampir sama dengan badannya sendiri. Semangatnya luar biasa, walau ia sempat bercerita besoknya ia masuk sekolah karena dapat jadwal shift pagi.
Teman saya berceletuk, seakan mengingatkan dimana dahulu kita pernah sama-sama melalui masa kecil tanpa beban, tanpa masalah,tanpa mengenal patah hati karena cinta, tanpa ada kegalauan karena chat yang tak kunjung dibalas dosen pembimbing skripsi. Eh buset malah jadi curhat...
Saya langsung memanggilnya untuk mendekat dan mengeluarkan sedikit rezeki untuk berbagi. "Mokasi Bang!" (dengan bahasa Padang), ia berlalu pergi dan berlari tergopoh-gopoh menghampiri saudaranya yang terlihat duduk termenung diujung persimpangan jalan, entah apa yang ia pikirkan..
"...digorengnya dadakan, harga lima ratusan..." sepertinya saya mengenal yel-yel atau jargon khas tersebut, ternyata itu abang-abang tahu bulat! Tak butuh aba-aba, bocah tadi bergegas menghampiri sumber suara dan menyodorkan selembaran uang untuk diganti dengan beberapa buntalan tahu bulat hangat.
Dalam sekejap kami melihat dari kejauhan tahu bulat tadi habis dinikmati mereka berdua. Gelak tawanya menghiasi keceriaan saat makan tahu bulat berdua. Melihat betapa besar kebahagiaan yang dapat ia hadirkan dalam momen kesederhanaa itu telah membuat kami terdiam merunduk beberapa saat.
Setelah berpikir mendalam mengenai studi perbandingan. Kami langsung sadar, dan membandingkan ternyata kami hanyalah manusia-manusia lemah serta selalu bersikap pesimistis saat menghadapi masalah yang datang silih berganti jika dibandingkan dua orang bocah mungil yang bermental baja tersebut.
Dua bocah tadi mengajarkan kami tentang makna kebahagiaan dan rasa syukur yang tidak bisa dibeli, kebahagiaan yang diajarkan melalui kesederhanaan. Mereka telah menjadi guru kami malam itu.
Banyak pembelajaran berharga yang dapat kami ambil dari momen ajaib yang sengaja ditunjukkan Allah SWT untuk mengetuk pintu hati kami yang sepertinya terlalu keras karena dicekoki kesibukan mengejar dunia hingga lupa untuk berbenah diri, apalagi membahagiakan diri sendiri.
Bocah mungil itu berhati malaikat! Ia mengajarkan kami untuk jangan pernah menilai sesuatu hanya dari apa yang "tampak" sebelum dirimu sendiri yang "merasakannya". Sebab air yang berada dalam gelas kusam belum tentu kotor dan air dalam gelas bening belum tentu bersih.
Tak semua orang yang mengenakan sutera adalah pangeran nan mulia. Dan tak semua orang yang tidur tanpa alas adalah faqir yang hina.
Setiap orang berhak untuk bahagia dan mewujudkan kebahagiaannya, walau sesederhana apapun itu.
Salut untukmu dik! Gapailah setiap impianmu dan buktikan kau bisa jadi apa yang kau inginkan kelak!

Komentar
Posting Komentar