Bertuan Pada Kebenaran


 Di sudut malam, seorang tokoh adat kontemporer sekaligus pemrakarsa Limbago Nan Salapan, yang juga dikenal dengan panggilan Professor Adat bertanya pada kami anak-anak muda yang sebelumnya cukup sibuk untuk saling berfilsafat ria.

Beliau berceletuk di awal pembicaraan dengan sebuah pertanyaan sederhana, "Apakah kerusakan di negeri ini sekarang sudah bisa dikatakan sempurna?"

Hampir seluruh dari kami mengatakan belum sempurna akibat dari masih adanya sikap optimisme yang muncul jika melihat ruang-ruang diskusi perbaikan yang kian aktif di tengah-tengah masyarakat, khususnya bagi kaum muda. Saya sendiri menjawab bahwa kerusakan sudah berada di ujung tanduk kesempurnaan.

Beliau menjelaskan lebih jauh, masalah di negeri ini sangat sempurna apabila kita tinjau dari segi persoalan IPOLEKSOSBUDHANKAM, diperkuat dengan apa yang sudah dan sedang terjadi hari ini.

Pembicaraan beliau kemudian menyentuh titik filsafat teologi metafisik dan moral, ketika menemukan bahwa inti dari persoalan yang ada ialah diakibatkan karena manusianya tidak memikirkan kebaikan.

Kesederhanaan selalu lahir dari latar yang begitu kompleks. Konklusi tersebut muncul setelah beliau memberi pertanyaan tambahan yang cukup njelimet untuk kami, "Pernahkah kalian memikirkan apa yang dipikirkan pikiran?"

Pertanyaan tadi ternyata bersambung jawaban dengan hakikat manusia yang hanif atau cenderung pada kebaikan. Tak lupa, perintah pertama dalam Al-Qur'an "Iqra", yang artinya bacalah!

Perintah bacalah memiliki makna yang luas, bukan hanya sebatas tekstual belaka namun juga kontekstual, alangkah indah Kebesaran dan Kebaikan-Nya yang selalu ingin mempermudah jalan bagi hamba-hambaNya sehingga Allah SWT mewahyukannya melalui Al-Qur'an sebagai bentuk dari bentangan alam yang dibukukan.

Saya mengambil pesan berharga dari beliau, kesadaran diri untuk memikirkan kebaikan yang bertumpu pada ajaran-ajaran Al-Qur'an, niscaya sempurnanya keburukan yang ada sekarang akan dikikis perlahan oleh cahaya lembut kebaikan.

Kepala nyut-nyutan membuat saya tidak bisa mengikuti diskusi sampai tuntas, terakhir sebelum hendak merebahkan badan, sempat terdengar sayup-sayup pembahasan mengenai kebudayaan Minangkabau.

Oh ya, sehat selalu saya do'akan untuk beliau, orangtua kedua bagi saya di tanah rantau.

- Sudut kamar 11.55 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanah Terjauh

Jakarta

It's The End as Well as The Beginning