Februari, akhir.

 

Ini adalah akhir dari hari-hari di bulan Februari, menjelang terbitnya musim baru.

Kebahagiaan ternyata hanyalah pengantar semu, menuju kesedihan yang teramat abadi. Riuh, rumit, dan ruwet adalah jalan pintas yang selalu berhasil memangkas waktu tidur. Kenyamanan, lalai, dan diam adalah jalan buntu yang membuatmu berhenti bertumbuh. Berusaha, kata kerja ini hanyalah satu diantara ributnya variabel-variabel lain.

Semakin saya berupaya meraih kesempurnaan, semakin saya menemukan cacat, luka, dan hina dalam diri.

Benar, saya memang perlu merelakan diri untuk terus saja mengalir, dengan prasyarat kesadaran penuh tentunya.

Meluap sesekali itu tak apa, saya serius. Air mata tidak memiliki jenis kelamin. Kadang ia butuh tumpah untuk kembali tumbuh.

Bersandarlah di pundak ternyaman, ia berada tepat di bahwa daun telingamu sendiri. Dari dalam jiwa senyap bersuara lirih, “Dari segala persoalan, yang berhasil menang hanyalah hati yang tenang”.

Selamat, mengudaralah kasih dalam kisah.


- Di sudut kamar, seperti biasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanah Terjauh

Jakarta

It's The End as Well as The Beginning