Rest In Love, Chingku.


  

Minggu, 27 Maret 2022.

Chingku, seekor kucing campuran kampung-anggora milikku secara resmi telah tiada sebulan yang lalu. Kepergiannya meninggalkan banyak memoar kerinduan. Aku ingin merapalkan beberapa sisi memoar paling aku kenang darimu, si gembul oren.

Juli 2020, aku mengakuisisi sepenuhnya kepemilikan atas Chingku. Oh ya, nama “Chingku” aku beri karena tampaknya nama tersebut cukup fleksibel, bisa berarti “Kuching” (Jika dibalik), atau “Kucingnya Aku” (Singkatan dari).

1 tahun 8 bulan, suara meongannya menemani keseharian hidup kami se-keluarga di rumah. Chingku si kucing oren adalah pribadi hewan yang ulet, aktif, dan ekspresif. Energi positifnya sering meluap-luap memenuhi sudut-sudut rumah.

Chingku tumbuh dan berkembang sebagai kucing peliharaan yang lebih banyak menghabiskan waktu di kandang. Walaupun lebih sering hidup terisolasi dari dunia luar, sesekali keluar, kucing-kucing tetangga mati ketakutan dibuatnya. Ia jawara-nya dalam pertarungan antar kucing, penuh emosional, namun sesekali hobi bermanja ria.

Chingku dirawat dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh kakakku. Kakak banyak mengorbankan perhatian hingga materil untuk Chingku. Ia menganggap itu sebagai sedekah jariyah, karena binatang-pun punya hak untuk diperhatikan oleh sesama makhluk lain, utamanya manusia.

Kepergian Chingku meninggalkan duka yang cukup perih, terlebih kami di rumah sudah terbiasa dengan meongan serta gaya cueknya yang sangat lucu. Kami semua di rumah sayang kepada Chingku, kucing oren gembul nan imut itu adalah bagian dari keluarga kami.

Selamat jalan, Chingku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanah Terjauh

Jakarta

It's The End as Well as The Beginning