Pelajaran Berharga Saat Jadi Pekerja Survei Politik
Lembar acak “per-survei-an” beberapa waktu lalu mengantarkan saya pada seorang Ibu paruh baya. Seperti responden-responden pada umumnya, sepasang mata penuh curiga sudah diperlihatkan tatkala ia melihat lembar bertuliskan kata “politik”. Entah kesan apa yang menghantui blio sampai membuat pupil matanya membesar ketakutan.
Blio nampak makin gugup saat melihat gambar orang-orang besar yang biasa ia lihat di billboard, spanduk-spanduk besar hingga kantong-kantong beras, namun sekarang bermanifestasi dalam bentuk kertas seukuran lembar resep obat yang biasa digunakan orang-orang sakit saat ke apotek.
“Ibuk enggak mengerti politik nak, Ibuk hanya bekerja ke sawah”. Artikulasi kalimatnya begitu mengindikasikan kecemasan yang teramat dalam dan tergambar jelas dalam raut wajah yang mulai keriput itu. Prasangka saya semakin kuat setelah ia menimpali lagi dan bertanya, “Apakah Ibuk nantinya akan berurusan dengan Polisi nak?”
Sepertinya kehadiran saya telah membuat wanita paruh baya setengah mati ketakutan sampai sampai blio berpikir kalau kalau saya akan menjebaknya agar masuk penjara. Saya harus mendudukkan maksud dan tujuan kedatangan saya sebelum ia makin takut dan enggan melakukan wawancara.
Berbekal senyuman dibalik siratan wajah lelah penuh minyak, saya mulai menarik nafas dalam-dalam dan menjelaskan tahp demi tahap. Setelah proses negosiasi dan lobby khas anggota dewan yang saya pelajari saat menonton streaming debat kusir ILC dengan kuota Youtube pas pas-an, kewajiban dalam purna penugasan wawancara saya hari itu terselesaikan dengan predikat amat baik.
Saat hendak menutup lembar puluhan halaman tersebut, kembali blio bersontak dan menyodorkan pertanyaan, “Apakah besok Ibuk dapat bantuan setelah ini nak?”. Melihat kedainya yang sangat sepi pembeli sedari 2 jam tadi saya menunggu blio balik dari sawah, sepertinya wajar ia bertanya polos seperti itu.
Ia lanjut menjelaskan panjang lebar persoalan-persoalan rumah tangga yang harus ia lalui, terlebih setelah sepeninggalan Almarhum suaminya. Saya lantas tertegun dan tanpa sadar merunduk dalam. Wanita yang begitu hebat! Gumam saya dalam hati.
Usut demi usut, blio dulu pernah memiliki jualan cendol yang sangat laris semasa suaminya masih hidup, 2 tahun yang lalu. Semenjak itu, status single parent harus membuatnya putar kepala memikirkan urusan dapur dan kebutuhan lainnya. Terlebih anaknya yang kembar no 3 dan 4 harus masuk bangku SMP beberapa bulan lagi.
Anak pertamanya, seorang perempuan juga tak kunjung dilamar orang berpunya seperti keinginan sederhana dari Ibunya. Pun begitu dengan anak kedua, laki-laki remaja yang sejak 3 bulan lalu merantau tapi tak juga dapat bekerja layak, ia harus rela menjadi buruh serabutan di negeri orang.
Walau didera persoalan ekonomi rumah tangga dan harus menghidupi serta mencukupi kebutuhan keempat orang anaknya seorang diri, blio selalu yakin dan menaruh harapan pada sepetak sawah milik orang lain yang ia garap hari demi hari di umurnya yang sungguh tak muda lagi.
Sore itu, lantunan suara ceramah khas dari Almarhum Ustadz Zainuddin MZ di ujung speaker Masjid menjadi saksi betapa kuatnya tekad dan harapan seorang manusia yang tergambar dalam jiwa dan tubuh wanita yang sudah mulai renta.
Baginya umur seperti hanya sekedar angka! Semangatnya begitu luar biasa, dan saya akui, saya seorang anak muda pun dibuat malu karenanya.
Ia seperti tidak peduli dengan gejolak serta ambisi politik orang-orang berpunya yang selalu wara wiri di media sosial dan televisi. Ketidaktahuannya akan politik tergambar dari hasil wawancara kala itu. Ketakutannya berurusan dengan Polisi (hukum) mencerminkan kegamangan yang ia rasakan saat bertemu orang dengan stelan formal (memiliki kokarde tanda pengenal), persis seperti saya.
Walau blio tak tahu, saya juga bisa dibilang kerja serabutan jadi pekerja survei politik yang turun lapangan ke ujung-ujung daerah terpencil dengan bayaran yang saya kira bakalan habis sekejap mata kalau pergi ke Plaza Indonesia.
Itu sepertinya tidak seberapa dengan pelajaran berharga yang saya dapatkan hari ini. Saya belajar banyak tentang pengharapan dan rasa syukur dari seorang wanita luar biasa. Setali tiga uang dengan pengalaman hebat yang saya dapatkan dari seorang manusia yang awam dan bahkan takut dengan narasi-narasi politik.
Politikus mestinya memberi citra positif dan bukan memberi ketakutan kepada Ibu tua ini. Ahh, andai saja mereka tau!
Setelah memberi sebuah masker survei sebagai tanda terima kasih, saya berpamitan pulang dengan membawa begitu banyak pembelajaran yang menjadi pukulan telak untuk saya yang masih sering berkeluh kesah di usia yang muda ini.
Salam hormat Buk! Sehat terus dan lancar rezekinya.
*tulisan mengandung unsur dramatisir

Komentar
Posting Komentar