Nasehat Cinta, Hidup dan Kematian dari Tragedi Kematian si Kumbang

 

Malam itu cuaca sedikit mendung. Bintang-bintang bersembunyi dibalik gumpalan awan kelabu. Sama seperti perutku yang begah menggumpal setelah kalap melahap menu berbuka puasa tadi. Berbekal niat dan tenaga yang tersisa, aku langsung berwhudu dan memakai starterpack atau istilah gaulnya “OOTD” untuk Tarawihan ke Masjid.

Dengan berjalan kaki, aku menempuh Masjid yang berjarak 50-an meter dari rumah. Lumayan, bisa membakar beberapa kalori berlebih sehabis berbuka tadi.

Selepas menunaikan sholat Isya, aku menggeser posisi duduk sedikit ke belakang dari shaf pertama mengikuti jemaah yang lain. Jika diperhatikan lagi, ternyata spekulasi Ustadz diawal bulan Ramadhan lalu yang mengatakan makin hari makin ke ujung, jamaah Masjid akan menghilang satu per satu.

Komposisi jamaah saat itu didominasi oleh bapak-bapak dan ibu-ibu paruh baya. Hanya 2 orang yang sepantaran dengan umurku.  Sedikit ironis, terlebih di tanah Minangkabau dimana sangat santer terkenal dengan agama dan adatnya yang “tak lakang dek paneh, tak lapuak dek hujan”, pepatah yang sangat laku dijual di mimbar-mimbar adat sekarang ini…

Dengan tema khutbah Tafsur bacaan Basmallah, Khatib dengan suara yang menggebu-gebu menekankan betapa pentingnya membaca Basmallah tiap-tiap memulai kegiatan apapun. Di tengah-tengah khutbah, “….plaaakk..” suara itu seketika mencuri pandanganku.

 Ternyata itu suara dari tangan seorang bapak yang tidak aku sebutkan namanya sedang menepuk seekor kumbang. Jaraknya hanya tiga shaf disebelah kiriku. Aku melihat dengan mata telanjang dan penuh kesadaran akan sebuah peristiwa mengerikan itu. Kumbang tadi tak berkutik, apalagi setelah itu aku menyaksikan si bapak menyelipkan kumbang dibawah karpet sholat, dan lagi lagi menepuknya tanpa ampun.

Terlihat jelas ada gumpalan kecil dibalik karpet yang tak lagi bergerak. Si Kumbang ternyata telah menghembuskan nafas terakhirnya. Aku bergumam dalam hati, betapa malang dan tragisnya nasib si Kumbang. Bisa jadi ia hanya iseng mampir ke dalam Masjid, atau ia mencari makan untuk anak, pun istrinya yang sedang menunggu disarang malam itu.

Si Kumbang sebelumnya mungkin berpikir seolah-olah ia akan hidup lebih lama lagi, bisa berkelana lebih jauh ke alam rimba lain yang ingin ia jelajahi. Sebelum masuk Masjid-pun ia mungkin tak pernah berpikir bahwa ia akan mati ditengah-tengah jamaah yang tingkat religiusitasnya tak saya diragukan lagi. Tapi ternyata, kematian datang saat ia tidak tahu dan bahkan tidak siap untuk itu.

Lantas aku teringat saat-saat dimana seringkali terdengar pengumuman di toa-toa Masjid yang memberitakan kematiaan seseorang. Dari sependengaran dan sepenglihatanku, kematian ternyata tidak selalu identik dengan umur tua.

Seperti nasib Si Kumbang nan malang, ia mungkin masih muda. Tapi siapa sangka ia akan ditempeleng dengan begitu sadis hingga menghembuskan nafas terakhirnya? Bahkan di tempat suci sekalipun.

Dari tragedi menggenaskan akan nasib diakhir hayatnya Si Kumbang, aku mendapat pelajaran dan nasehat akan kematian. Ia adalah sejujur-jujurnya nasehat yang diperlihatkan pada diriku malam itu. Dia dekat, tapi jauh dari pikiran kita. Dia tidak memiliki standar umur atau warna rambut. Walau mungkin Si Kumbang masih begitu muda, jika sudah saatnya maka dia akan menjemput dengan paksa.

Kematian datang begitu saja, tanpa aba-aba. Dia tidak menunggu taubatmu. Setiap kali kamu menarik nafas, kamu sedang menariknya agar semakin dekat denganmu. Datangnya kematian lebih pasti daripada datangnya jodoh.

Aku belajar, ternyata salah satu cara untuk mencintai adalah dengan menyadari bahwa kita akan kehilangan, siapapun dan apapun itu…

Tidak heran Rasulullah ketika ditanya seorang sahabat mengenai siapa manusia yang paling cerdas, Beliau menjawab “Orang yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas”.

Bahkan dari kematian Si Kumbang, aku mempelajari filosofi hidup bermanfaat, kematian yang harusnya dipersiapkan, hingga cara mencintai dengan jujur sekalipun.

Tenang di alam sana, Kumbang! Setidaknya dari kematianmu yang tragis dan malang, aku dapat belajar dan lebih mendalami banyak hal, terutama kematian. Dan kematianmu ternyata telah membantu membuat karya tulisan ini mencuat menjadi sebuah nasehat…

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanah Terjauh

Jakarta

It's The End as Well as The Beginning