Mengenal Tuhan (A View From Within)
Tuhan dalam beberapa kesempatan seringkali diperdebatkan oleh kaum muda intelek. Entah itu mempertentangkan berbagai tesis absolut landasan teologis mengenai agama dan Tuhan untuk membuka diskursus yang lebih mendalam, atau hanya sekedar iseng dengan menguji pemahaman cetek orang lain untuk showoff agar terkesan pintar dan kritis dalam berpikir.
Seringkali banyak orang tanpa sadar terjebak dalam pemikirannya mengenai Tuhan. Ia menjelaskan dengan gamblang seberapa luas konsep gagasannya tentang Tuhan, namun tanpa sadar ia seakan-akan menjelaskan bahwa dirinyalah Tuhan itu sendiri. Jebakan ini mendistorsi esensi dan substansi Tuhan, alih-alih menunjukkan apa yang benar dan diakui sebagai kebenaran, ia (pribadi) malah berevolusi menjadi kebenaran mutlak.
Karena jelas, jika seseorang membela kebenaran dengan cara mencaci, menghina, marah, ego, dan memaksa, ketahuilah bahwa ia telah salah niat. Karena sesungguhnya kebenaran tidak butuh itu semua.
Sebagaimana Paul Natorp pernah mengatakan, “bahwa segala kebenaran maunya diketahui dan dinyatakan, dan juga dibenarkan; kebenaran itu sendiri tidak memerlukan itu, karena dia lah yang menunjukkan apa yang diakui benar dan apa yang seharusnya berlaku”.
Hampir disetiap momentum dalam pengalaman penulis, banyak orang yang tidak berani secara bebas berimajinasi tentang gambaran pribadinya mengenai Tuhan. Diantara mereka khawatir jika berpikir bebas akan mengantarkannya pada jurang kesesatan. Secara konstan, justru selama ini mereka menerima gambaran Tuhan yang hanya bersifat doktriner.
Karena bagaimana kita dapat menjamin bahwa Tuhan yang kita yakini sebagai Al-Haq? Dan dengan cara apa kita bisa Haq Al-Yaqin (derajat keyakinan tanpa keraguan) bahwa Tuhan yang kita sembah selama ini adalah Al-Haq? Dan satu-satunya jalan untuk menjamin kebenarannya adalah dengan menguji kedalaman pemahaman kita tentang Tuhan itu sendiri.
Spekulasi banyak orang yang beranggapan bahwa dengan mendekonstruksi atau mengkritik Tuhan adalah sebuah perbuatan yang mendatangkan dosa, maka bisa diartikan kita telah menistakan Tuhan itu sendiri. Berpikir, baik dalam doktrin teologis maupun tradisi berfilsafat, selalu dianggap sebagai hal yang sangat penting. Tidak mungkin Tuhan takut dengan akal manusia yang diciptakan-Nya sendiri, bukan?
Pada kesempatan berbahagia ini, penulis ingin membagikan sedikit point of view (POV) mengenai Tuhan.
Dewasa ini, penulis melihat begitu banyak pemuka-pemuka agama yang berkicau tentang apa yang benar dan apa yang salah. Mirisnya sebahagian besar malah seperti seakan-akan menciptakan situasi ‘rebutan surga’, mengklaim dirinya masuk surga dan mengutuk orang masuk neraka.
Ditambah lagi, jika kita melihat fenomena dunia saat ini, menurut riset majalah kondang Forbes, negara-negara paling bahagia di dunia yang memiliki tingkat kriminalitas dan korupsi terendah justru ditempati oleh negara-negara yang ‘tidak mengenal Tuhan’ maupun agama. Sebaliknya, jika membahas negara-negara dengan tingkat kriminalitas dan problematik yang tinggi, kita akan disuguhkan dengan nama-nama negara yang dikenal agamais dan religius.
Padahal dalam terminologi dan tujuan sederhana, Tuhan dan agama harusnya membuat manusia lebih bisa memanusiakan manusia lainnya, bukan malah mendatangkan masalah. Dunia sekarang seperti kentara dengan doktrin agama tapi dangkal akan pengetahuan dalam mengenal Tuhannya.
Sebagai bukti bagaimana kedangkalan berpikir itu cukup meresahkan. Jika saja ditanyakan apa bukti adanya Tuhan kepada saya, saya langsung teringat pelajaran-pelajaran agama SD-SMP-SMA yang secara konstan menyebutkan bukti adanya Tuhan ialah adanya langit dan bumi, adanya makhluk ciptaan-Nya hingga pergantian siang dan malam.
Seiring bergesernya umur saya ke usia-usia dewasa, pikiran saya lantas sering mempertanyakan banyak hal mengenai pernyataan bukti keberadaan Tuhan yang tidak lagi logis itu. Seperti contoh ketidaklogisan bukti-bukti itu ialah jika kita memakai teori big bang dari seorang George Lemaitre, 14 milyar tahun yang lalu sebelum adanya langit dan bumi, dimana Tuhan?
Atau, kelak pada waktu kiamat, langit dan bumi serta seluruh isinya digulung, dimana Tuhan? Kalaupun ada, tapi buktinya mana? Maka orang yang memakai dalih bukti tadi akan terpaksa mengatakan Tuhan itu tidak ada karena kehilangan bukti.
Makin dewasa seorang manusia, harusnya ia makin bisa berpikir logis dan mendalam. Sebagai analogi sederhana, meja ibaratkan Tuhan dan kolong meja ibaratkan ciptaan-Nya. Kita tidak dapat membuktikan adanya meja dengan adanya kolong, bukan? Tapi meja lah yang membuktikan bahwa adanya kolong.
Tuhan tidak perlu dibuktikan dengan ciptaan-Nya, tapi Tuhan sebagai bukti membuktikan adanya alam semesta beserta seluruh ciptaan-Nya ini. Itulah Ke-Esaan sifat Tuhan.
Banyak orang-orang dewasa yang beragama namun dengan hal-hal sederhana seperti itu belum bisa memaknai hakikat sejatinya. Padahal dalam pertanyaan-pertanyaan dan jawaban sederhana seperti itu membuat kita lebih mengetahui dan mengenai siapa Tuhan kita sesungguhnya.
Dan teruslah berpikir serta mencari keberadaan-Nya, hanya dengan berpikir secara dinamis maka terbuka ruang potensi bagi penemuan Tuhan Al-Haq. Sebaliknya kalau kita cenderung pasif berpikir, maka potensi menemukan Tuhan Al-Haq menjadi tertutup.
Tanpa ada keberanian untuk menguji atas keyakinan Tuhan yang kita anggap benar, maka Tuhan yang kita sembah hanyalah sebatas anggapan belaka.

Komentar
Posting Komentar