Jebakan Maskulinitas
Kebanyakan
dan mungkin hampir seluruh dari kaum laki-laki dari kecil diajarkan untuk tidak
jadi orang yang penangis. Oleh orangtua, kakak, tetangga maupun teman. Menangis
seperti premis kata yang telah hilang dalam kamus seorang laki-laki.
“Masa anak laki-laki cengeng gitu?”
“Jangan menangis, kamu laki-laki!”
Bagi lelaki, kata-kata diatas pasti
sudah sering didengar semenjak kecil. Kata-kata ini menjadi gambaran bahwa
sejak kecil, kebanyakan anak laki-laki dididik untuk sebisa mungkin menghindari
emosi.
Emosi lemah semacam itu sudah
seperti musuh bagi lelaki, mereka diajarkan untuk membencinya. Emosi menjadi
sesuatu yang memalukan dan menunjukkan kelemahan. Emosi hanya diperbolehkan
untuk perempuan, tidak bagi lelaki.
Dari alam bawah sadar, kata-kata
yang dibiasakan dan telah menjadi karakter tersebut menjelma menjadi jebakan
yang menakutkan, ya! Jebakan maskulinitas.
Tanpa disadari, sesungguhnya kita
juga sering melontarkan kalimat atau kata senada ketika melihat adik atau
keponakan laki-laki kita sedang menangis. Kita terus meneruskan pola itu dari
generasi ke generasi.
Akibatnya lelaki masih terkena
stigma negatif bila ingin menangis atau sekedar bicara deeptalk dari hati ke hati. Perlu diketahui, perempuan memang lebih
rentan mengalami stress dan depresi. Namun, penelitian selama 50 tahun oleh seorang
psikolog, Bradvik membuktikan bahwa jumlah laki-laki bunuh diri lebih banyak
dibandingkan perempuan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa
laki-laki biasanya memendam emosi dan cenderung enggan mengakui depresi yang ia
alami. Mereka akhirnya jarang meminta pertolongan seperti sekedar bercerita ke
teman dekat atau berkunjung ke professional (psikolog atau psikiater).
Akibatnya, stress dan depresi yang mereka alami akan semakin memuncak, memburuk
dan tak tertolong lagi.
Buruknya dampak depresi bagi seorang
lelaki tentu berkorelasi kuat dengan jebakan maskulinitas yang selalu di-amin-ni
oleh penerus generasi.
Bagaimanapun, kini kebiasaan harus
diubah. Orang ingin hidup bebas dari kepalsuan dengan mengedepankan jati diri
sendiri, sekalipun itu rapuh. Ini adalah era di mana lelaki juga berhak menunjukkan
sisi kemanusiaannya, yakni memiliki kerapuhan dan bisa jujur terhadap segala
emosi yang ia alami.
Tulisan ini sangat dicemari oleh
pemikiran-pemikiran Regis Machdy.
- Viggo Pratama Putra di Sudut Kamar (Jum'at, 30/7)

Komentar
Posting Komentar