Sabtu dalam Memori
Hari ini hari Sabtu.
Beberapa hari ke
belakang aku tidur paling lambat jam 11 malam, tidak seperti biasa memang.
Tidur cepat merupakan
salah satu impian terbesarku di umur 20-an, dan aku bersyukur itu bisa terwujud,
ya walau alasannya karena kondisi fisik yang kurang fit.
Malam tadi mama berpesan
agar aku bisa menemaninya ke pasar di pagi hari nanti, dan selepasnya kami bisa
berkunjung ke Panti Asuhan untuk bersilaturrahmi dengan Ibuk Panti setelah
sekian lama aku tidak kesana.
Singkat cerita, setelah
selesai berbelanja kebutuhan pokok mingguan yang tidak sempat dilakukan di
hari-hari kerja karena kesibukan mama, terlebih setelah pindah ke kantor yang
baru. Kami menutup pagi dengan sarapan lontong kesukaan mama yang sering ia makan
sebelum berangkat ke kantor, sebelum ia pindah tentunya. Aku lantas memesan
satu porsi lontong cubadak dan bubur
putih untuk dibawa ke Panti Asuhan.
Setibanya di Panti
Asuhan yang jaraknya sebenarnya cukup dekat, kira-kira tiga atau empat
kilometer dari rumahku, kami disambut suasana sunyi. Tidak terdengar
suara-suara sayup anak-anak Panti Asuhan yang biasa aku lihat ketika dulu
sering berkunjung kesini.
Aku berjalan melintasi
lorong gerbang pintu masuk ke Panti Asuhan, aku seperti dibawa hanyut ke masa
lalu. Begitu banyak memori dan kenangan masa kecilku yang tumpah ruah disini,
bagaimana tidak, bertahun-tahun lamanya aku diasuh oleh tangan dingin Ibuk
Panti dan Pak Bon disini.
Mama mencoba mengetuk
pintu beberapa kali namun tidak ada yang menyahut dari dalam, aku melihat ke
jendela yang langsung terhubung ke kamar Ibuk Panti. Ibuk ternyata sedang
membereskan kerupuk-kerupuk lontong yang berserakan jatuh ke bajunya, televisi
yang memutar kajian-kajian ceramah agama nyaring terdengar dengan volume keras.
Maklum, umur beliau
sudah berkisar 80-an, mungkin suara kami tidak terlalu terdengar sampai ke
dalam, apalagi berpacu keras dengan suara seorang Ustadz di televisi yang tidak
mau kalah.
Setelah mengetuk kaca jendela
beberapa kali, tampak Ibuk Panti sadar ada panggilan dari luar, beliau terlihat
meraba-raba bagian per bagian tembok untuk sampai ke pintu depan dan
membukanya.
Seperti biasa, Ibuk
selalu menangis jika melihat aku datang mengunjunginya. Air matanya tak dapat
ditahan, tangannya spontan mengelap air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Tanpa berpikir panjang, tanganku langsung mendekap badan Ibuk Panti untuk
memeluknya. Terasa sekali, badan tuanya yang dulu sigap menjagaku waktu kecil
sekarang sudah begitu rapuh, usia memang tidak bisa berbohong.
Aku menyalami tangannya
dan tetap merangkul badannya dengan hati-hati. Sambil menyodorkan lontong dan
bubur putih, aku mengambil kursi untuk bisa duduk dekat dengannya. Ia terlihat
amat senang ketika menerima kunjungan dari kami, terlebih aku yang datang. Berulang-ulang
Ibuk Panti selalu saja mengatakan kalau ia teringat kepada sosok mungil yang
nakal dan sering menjaili kakak-kakak di Panti Asuhan ini 20 tahun yang lalu.
Ada sekitar setengah
jam kami bertiga mengobrol simpang siur. Yang jelas, terlihat bahwa Ibuk Panti
merasa sangat kesepian setelah sepeninggalan Pak Bon beberapa bulan yang lalu.
Ibuk bahkan bercerita kalau ia sering mendengar suara-suara sayup Pak Bon
akhir-akhir ini, entah itu halusinasi atau imajinasi belaka, yang jelas Ibuk Panti
sangat merindukan Pak Bon.
Sebagai pengobat rindu,
Ibuk Panti bercerita kalau ia selalu bangun dini hari untuk menegakkan sholat
malam dan berdo’a kepada Allah SWT agar Pak Bon tenang disana dan masuk surga
hendaknya.
Semenjak Pak Bon meninggal,
Ibuk hanya tinggal sendiri di Panti Asuhan, terlebih di masa Covid-19,
anak-anak penghuni Panti Asuhan semuanya balik ke kampung halamannya
masing-masing. Aku sadar kebutuhan Ibuk Panti, di usia-usia senja ia memang
butuh teman untuk bercerita.
Semoga setelah
pengurusan izin pindah ke rumah yang sengaja ia kontrak di samping Panti
Asuhan, Ibuk Panti bisa lebih bebas untuk keluar, tidak seperti sekarang dimana
hampir semua urusan di Panti Asuhan menjadi tugasnya, sehingga ia sulit untuk
bepergian ke luar. Mama berpesan ke Ibuk Panti, setelah selesai pengurusan izin
pindah, Ibuk Panti diharapkan bisa sering-sering bermalam di rumah kami. Ibuk
Panti sudah dianggap sebagai orangtua sendiri bagi kedua orangtuaku.
Setelahnya kami
berpamitan pulang, dan dalam hati aku berjanji akan lebih sering mengunjungi
Ibuk Panti kedepan. Sehat-sehat selalu buk, kami sayang Ibuk.
Respect
BalasHapusdibesarkan di panti asuhan 🥺salut untuk penulis
BalasHapus