Postingan

Mengenal Tuhan (A View From Within)

Gambar
Tuhan dalam beberapa kesempatan seringkali diperdebatkan oleh kaum muda intelek. Entah itu mempertentangkan berbagai tesis absolut landasan teologis mengenai agama dan Tuhan untuk membuka diskursus yang lebih mendalam, atau hanya sekedar iseng dengan menguji pemahaman cetek orang lain untuk showoff agar terkesan pintar dan kritis dalam berpikir.             Seringkali banyak orang tanpa sadar terjebak dalam pemikirannya mengenai Tuhan. Ia menjelaskan dengan gamblang seberapa luas konsep gagasannya tentang Tuhan, namun tanpa sadar ia seakan-akan menjelaskan bahwa dirinyalah Tuhan itu sendiri. Jebakan ini mendistorsi esensi dan substansi Tuhan, alih-alih menunjukkan apa yang benar dan diakui sebagai kebenaran, ia (pribadi) malah berevolusi menjadi kebenaran mutlak.             Karena jelas, jika seseorang membela kebenaran dengan cara mencaci, menghina, marah, ego, dan mema...

Nasehat Cinta, Hidup dan Kematian dari Tragedi Kematian si Kumbang

Gambar
  Malam itu cuaca sedikit mendung. Bintang-bintang bersembunyi dibalik gumpalan awan kelabu. Sama seperti perutku yang begah menggumpal setelah kalap melahap menu berbuka puasa tadi. Berbekal niat dan tenaga yang tersisa, aku langsung berwhudu dan memakai starterpack atau istilah gaulnya “OOTD” untuk Tarawihan ke Masjid. Dengan berjalan kaki, aku menempuh Masjid yang berjarak 50-an meter dari rumah. Lumayan, bisa membakar beberapa kalori berlebih sehabis berbuka tadi. Selepas menunaikan sholat Isya, aku menggeser posisi duduk sedikit ke belakang dari shaf pertama mengikuti jemaah yang lain. Jika diperhatikan lagi, ternyata spekulasi Ustadz diawal bulan Ramadhan lalu yang mengatakan makin hari makin ke ujung, jamaah Masjid akan menghilang satu per satu. Komposisi jamaah saat itu didominasi oleh bapak-bapak dan ibu-ibu paruh baya. Hanya 2 orang yang sepantaran dengan umurku.   Sedikit ironis, terlebih di tanah Minangkabau dimana sangat santer terkenal dengan agama dan ad...

Belajar Prinsip Kesetiaan

Gambar
  Di suatu sore menjelang maghrib tepat sehari sebelum Ummat Islam mulai menunaikan ibadah dibulan puasa, aku sekaligus kedua orangtuaku pergi berkunjung ke Panti Asuhan Tunas Bangsa di Kotaku, Kota Solok. Dalam tradisi masyarakat Minangkabau, kunjungan layaknya seperti ini seringkali disebut “manjalang” bagi menantu yang pergi bersilaturrahmi dan berkunjung ke rumah mertuanya. Namun bagiku kunjungan ini lebih dari sekedar ajang silaturrahmi, sebuah refleksi mendalam akan kenangan masa kecil dimana lebih dari 5 tahun aku tumbuh dan besar dibawah tangan dingin sepasang suami-istri yang berikhlas diri merelakan sebahagian besar hidupnya untuk mengurus anak yatim berpuluh-puluh tahun lamannya. Kesibukan pekerjaan kedua orangtua membuat masa kecilku lebih banyak dibentuk oleh perempuan berhati selembut sutera seputih salju, aku mengenalnya dengan panggilan “Ibuk Panti”. Tak lupa, seorang lelaki tangguh, terkenal dengan prinsip dan kedisiplinannya, aku memanggilnya “Pak Bon”. ...

Tentang Rasa Syukur

Gambar
Malam itu cuaca cerah sekali. Bulan dan bintang merekah bergantungan indah di langit. Sama cerahnya dengan hati dua orang kakak beradik yang beranjak kesana kesini melompat-lompat riang seperti tanpa beban. Kebetulan saya duduk bertiga dengan dua orang kawan tepat di pelataran yang sepertinya khusus disediakan untuk orang-orang yang ingin santai sejenak melepas kepenatan dikawasan pedestrian daerah Khatib Sulaiman Kota Padang, tempat biasa kami berbagi cerita dikala tak tahu lagi kemana kaki akan melangkah. Melihat kegirangan anak kecil tadi yang lewat mondar mandir persis dibelakang kami, lantas kawan saya langsung menyerobot memanggil dan menanyakan pendidikannya. Dari situ kami tahu ternyata ia baru saja menginjakkan kaki di Sekolah Dasar, ya bocah itu berlatar belakang pendidikan kelas 1 SD. Dari kejauhan, tadinya kami melihat bocah mungil itu mamasukkan plastik-plastik bekas minuman ke dalam kantong goni yang besarnya hampir sama dengan badannya sendiri. Semangatnya luar b...