Postingan

Buku, Sweater, dan Strap Masker

Gambar
  Aku ingin bercerita, cerita yang jujur keluar dari seorang kawan dekat. Jarang sekali ia mau bercerita sedalam ini, aku dibuat heran dengan rapalan merdu dan cantiknya luka yang ia butirkan jadi cerita padaku. Aku tidak tahu pasti harus mulai dari mana, yang jelas ia memulainya dengan sangat indah, ia melewati setiap detail alur ceritanya sendiri. Begini singkatnya ia bercerita dengan subtil padaku: “Aku menemukan orangnya! Aku menemukannya! ( dengan suara senyap menantang ). Kami memulai dengan cerita layaknya kawula muda yang baru ingin memadu kasih pada biasanya. Basa basi sana sini. Tapi jujur dalam basa basi pun aku dibuatnya jatuh hati dengan caranya merespon, menanggapi, bertanya, membalas chat, menyusun kata dan kalimat, bersuara dalam ketegasan dan kelembutan, terlebih ketika ia mulai bercerita, ia akan mulai menjadi peri pendongeng terbaik sepanjang masa. Jika saja aku adalah salah satu juri penghargaan bergengsi Nobel, niscaya aku taakan ragu untuk menghadiah...

Bukan tentang Hitam atau Putih

Gambar
  Setelah sekian lama purnama, aku menemukan beraneka pandangan yang berbeda untuk satu persoalan yang sama. Ada beberapa dari mereka yang tetap memiliki tujuan dan selalu merencanakan segala sesuatunya, ada pula dari mereka yang menjalani hidup layaknya air mengalir. Ada yang pesimis, ada pula yang mencoba untuk optimis. Satu hal baru yang aku pahami, bahwa hidup tak hanya hitam dan putih, tak hanya antara yang bermoral dan sundal. Tak hanya tentang menjalani dengan perencanaan ataupun tidak. Tapi hidup penuh dengan warna yang berbeda-beda. Dari situ aku belajar secara mandiri untuk memilih pendapat atau warna mana yang lebih logis untuk diikuti, atau bahkan justru aku akan menemukan pandanganku dan warnaku sendiri. Proses panjang mengajariku kemandirian dalam berpikir, keberanian dalam bersikap dan berpendapat, serta kemampuan untuk berbuat dan bertanggung jawab atau segala konsekuensinya. Ini memberiku sedikit tamparan, bahwa hidup adalah soal menjadi diri sendiri. Hidup b...

Bertuan Pada Kebenaran

Gambar
 Di sudut malam, seorang tokoh adat kontemporer sekaligus pemrakarsa Limbago Nan Salapan, yang juga dikenal dengan panggilan Professor Adat bertanya pada kami anak-anak muda yang sebelumnya cukup sibuk untuk saling berfilsafat ria. Beliau berceletuk di awal pembicaraan dengan sebuah pertanyaan sederhana, " Apakah kerusakan di negeri ini sekarang sudah bisa dikatakan sempurna ? " Hampir seluruh dari kami mengatakan belum sempurna akibat dari masih adanya sikap optimisme yang muncul jika melihat ruang-ruang diskusi perbaikan yang kian aktif di tengah-tengah masyarakat, khususnya bagi kaum muda. Saya sendiri menjawab bahwa kerusakan sudah berada di ujung tanduk kesempurnaan. Beliau menjelaskan lebih jauh, masalah di negeri ini sangat sempurna apabila kita tinjau dari segi persoalan IPOLEKSOSBUDHANKAM, diperkuat dengan apa yang sudah dan sedang terjadi hari ini. Pembicaraan beliau kemudian menyentuh titik filsafat teologi metafisik dan moral, ketika menemukan bahwa inti dari per...

It's The End as Well as The Beginning

Gambar
 3 Oktober 2021 menjadi saksi, bahwa sebuah perjuangan telah membuahkan hasil. Viggo Pratama Putra, S.AP, begitulah nyatanya. Nama formalku bertambah 3 huruf. Saya bingung akan mulai dari mana, yang jelas kini tantangan baru pasti akan menanti. Sebuah tanggungjawab menunggu untuk dipertuankan. 4 tahun berkuliah terasa amat singkat bagiku. Terlebih Pandemi Covid-19 mewarnai hampir setengah dari perjalanannya. Saya belajar banyak hal, tak sanggup kiranya untuk saya ceritakan satu per satu. Satu hal terpenting, saya belajar untuk benar-benar hidup . Dari keramaian yang terasa sepi, kesendirian yang berkecamuk, diri ini sering terlontar pada perjalanan akan makna. Saya sering kebingungan di setiap simpang, namun merasa yakin di setiap kebuntuan. Saya hanya ingin hidup untuk menghidupi . Baris diatas sengaja saya renggangkan, untuk memberi sedikit jeda pada sibuknya ambisi dan lari. Saya ingin berteriak sekencang-kencangnya! Namun saya begitu malu pada Tuhan Yang Maha akan Pendengaran ...

Jebakan Maskulinitas

Gambar
  Kebanyakan dan mungkin hampir seluruh dari kaum laki-laki dari kecil diajarkan untuk tidak jadi orang yang penangis. Oleh orangtua, kakak, tetangga maupun teman. Menangis seperti premis kata yang telah hilang dalam kamus seorang laki-laki.             “Masa anak laki-laki cengeng gitu?”             “Jangan menangis, kamu laki-laki!”             Bagi lelaki, kata-kata diatas pasti sudah sering didengar semenjak kecil. Kata-kata ini menjadi gambaran bahwa sejak kecil, kebanyakan anak laki-laki dididik untuk sebisa mungkin menghindari emosi.             Emosi lemah semacam itu sudah seperti musuh bagi lelaki, mereka diajarkan untuk membencinya. Emosi menjadi sesuatu yang memalukan dan menunjukkan kelemahan. Emosi hanya diperbolehkan untuk perempuan, tidak bag...

Mengenal Tuhan (A View From Within)

Gambar
Tuhan dalam beberapa kesempatan seringkali diperdebatkan oleh kaum muda intelek. Entah itu mempertentangkan berbagai tesis absolut landasan teologis mengenai agama dan Tuhan untuk membuka diskursus yang lebih mendalam, atau hanya sekedar iseng dengan menguji pemahaman cetek orang lain untuk showoff agar terkesan pintar dan kritis dalam berpikir.             Seringkali banyak orang tanpa sadar terjebak dalam pemikirannya mengenai Tuhan. Ia menjelaskan dengan gamblang seberapa luas konsep gagasannya tentang Tuhan, namun tanpa sadar ia seakan-akan menjelaskan bahwa dirinyalah Tuhan itu sendiri. Jebakan ini mendistorsi esensi dan substansi Tuhan, alih-alih menunjukkan apa yang benar dan diakui sebagai kebenaran, ia (pribadi) malah berevolusi menjadi kebenaran mutlak.             Karena jelas, jika seseorang membela kebenaran dengan cara mencaci, menghina, marah, ego, dan mema...

Nasehat Cinta, Hidup dan Kematian dari Tragedi Kematian si Kumbang

Gambar
  Malam itu cuaca sedikit mendung. Bintang-bintang bersembunyi dibalik gumpalan awan kelabu. Sama seperti perutku yang begah menggumpal setelah kalap melahap menu berbuka puasa tadi. Berbekal niat dan tenaga yang tersisa, aku langsung berwhudu dan memakai starterpack atau istilah gaulnya “OOTD” untuk Tarawihan ke Masjid. Dengan berjalan kaki, aku menempuh Masjid yang berjarak 50-an meter dari rumah. Lumayan, bisa membakar beberapa kalori berlebih sehabis berbuka tadi. Selepas menunaikan sholat Isya, aku menggeser posisi duduk sedikit ke belakang dari shaf pertama mengikuti jemaah yang lain. Jika diperhatikan lagi, ternyata spekulasi Ustadz diawal bulan Ramadhan lalu yang mengatakan makin hari makin ke ujung, jamaah Masjid akan menghilang satu per satu. Komposisi jamaah saat itu didominasi oleh bapak-bapak dan ibu-ibu paruh baya. Hanya 2 orang yang sepantaran dengan umurku.   Sedikit ironis, terlebih di tanah Minangkabau dimana sangat santer terkenal dengan agama dan ad...

Belajar Prinsip Kesetiaan

Gambar
  Di suatu sore menjelang maghrib tepat sehari sebelum Ummat Islam mulai menunaikan ibadah dibulan puasa, aku sekaligus kedua orangtuaku pergi berkunjung ke Panti Asuhan Tunas Bangsa di Kotaku, Kota Solok. Dalam tradisi masyarakat Minangkabau, kunjungan layaknya seperti ini seringkali disebut “manjalang” bagi menantu yang pergi bersilaturrahmi dan berkunjung ke rumah mertuanya. Namun bagiku kunjungan ini lebih dari sekedar ajang silaturrahmi, sebuah refleksi mendalam akan kenangan masa kecil dimana lebih dari 5 tahun aku tumbuh dan besar dibawah tangan dingin sepasang suami-istri yang berikhlas diri merelakan sebahagian besar hidupnya untuk mengurus anak yatim berpuluh-puluh tahun lamannya. Kesibukan pekerjaan kedua orangtua membuat masa kecilku lebih banyak dibentuk oleh perempuan berhati selembut sutera seputih salju, aku mengenalnya dengan panggilan “Ibuk Panti”. Tak lupa, seorang lelaki tangguh, terkenal dengan prinsip dan kedisiplinannya, aku memanggilnya “Pak Bon”. ...